SURAT AYAH PADA ANAKNYA

By | April 11, 2005

Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allahyang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai suratseorang laki-laki kepada seorang laki-laki; surat seorang ayahkepada seorang anak.

Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku saat menantikelahiranmu dulu, belumlah hilang hingga saat ini. Kecemasan yangindah karena ia didasari oleh sebuah cinta. Sebuah cinta yang telahterasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.

Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasuldan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialogseorang ayah dengan anak-anaknya.

Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu beratdan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu disisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, danmakna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmuadalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depansiapapun. Bahkan di hadapan Allah, ketika aku duduk berduaanberhadapan dengan Nya, hingga saat usia senjaku ini.

Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagaibuah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu taklagi terpisahkan oleh apapun jua.

Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata:”TIDAK”, timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkaubukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karenacintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Allah. Tak ada hakkumenuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mataseharusnya hanya untuk Allah.

Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya kala menyadari siapasebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang dimalam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air matadi hadapan Allah. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.

Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmukepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusahamemenuhi keinginan Pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya,bukan karena kau, aku dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi oranglain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Allah.

Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulumemberi contoh kepadamu dekat dengan Allah. Keinginanku haruslebih dulu sesuai dengan keinginan Allah. Agar perjalananmumendekati Nya tak lagi terlalu sulit.

Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkaukuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cumamenggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agardapat kau rasakan perjalanan ruhaniah yang sebenarnya.

Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kitamemang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Allah tak kenalletih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-katakutiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampirputus asa.

Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan dihadapan Allah, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akanikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau bolehaku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Allah.Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisakita kembalikan kepada pemiliknya.

Dari ayah yang senantiasa merindukanmu…

–Dari milis¬†shuffah@egroups.com From: “kirana, nina”¬†kirana@paramartha.org

–Sebelumnya telah diposting di masimet.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *